Minggu, 27 Mei 2012

Perkampungan Sosial Pingit : Pendar Pelita dari Pingit


Untuk: Agung Priyo di Suara Merdeka biro Yogya



 
Ayo doa dulu sebelum memulai kegiatan. Duduk bersila dan tangan di atas dada. Ucapkan bis-mi-llah…” ujar frater Gorius Gores CMM. Belum selesai berucap, terdengar tangisan dari bocah balita yang duduk di depan frater Gorius.”Wuaaaa….hiks-hiks….ibu…aa….wua..”. Si Frater pun menghentikan ritual doa pembuka dan menyuruh salah seorang volunteer menenangkan balita yang menangis itu.

Begitulah suasana keramaian di ruang kelas pendampingan belajar untuk anak usia balita di Perkampungan Sosial Pingit (PSP) Yogyakarta. Keriuhan sudah dimulai sebelum ritual doa pembuka. Anak-anak balita tersebut telah asyik dengan mainan-mainan yang disediakan di ruang kelas, seperti kipas warna-warni, puzzle sederhana,dan balok-balok kertas. Kenakalan mereka membuat para volunteer harus bersikap sabar. Anak-anak itu adalah anak jalanan yang berasal dari keluarga tunawisma di Yogyakarta.

Pendampingan belajar anak balita adalah salah satu program yang ada di PSP. PSP merupakan sebuah komunitas karya sosial yang dimiliki oleh Yayasan Sosial Soegijapranata, Keuskupan Agung Semarang. Komunitas karya sosial ini bergerak di bidang community development kepada para tunawisma yang tinggal di sekitar Kali (Sungai) Winongo, Pingit, Yogyakarta. PSP dirintis mulai tahun 1965 oleh Pastor Benhard Kieser, seorang pastor yesuit Kolese Santo Ignatius, untuk memberikan pelayanan bagi keluarga-keluarga tunawisma. 

“PSP hadir pasca peristiwa G30S PKI tahun 1965. Tahun-tahun itu terjadi krisis ekonomi berat dan melahirkan banyak tunawisma di Yogyakarta. Terbesitlah ide dari Pastor Kiesher untuk mendirikan penampungan bagi mereka,” ujar Frater Mario, frater asal Fakultas Teologi Sanatha Darma yang sejak Januari 2012 menjadi volunter.
Berkat bantuan seorang donatur yakni Soebarjo, PSP bisa menempati sebidang tanah di tepi Sungai Winango sampai sekarang. Di tepi sungai Winango inilah berdiri empat bangunan sederhana dengan dinding bambu dan triplek yang digunakan untuk ruang kelas, ruang rapat, dan ruang serbaguna.
Pada awal mulanya PSP hanya dikhususkan untuk pendampingan orangtua atau yang lebih dikenal dengan divisi pengembangan masyarakat. Divisi Pengembangan Masyarakat dilakukan dengan pendampingan warga binaan. Warga binaan adalah keluarga tunawisma yang berasal dari jalan-jalan di sekitaran Yogyakarta. Divisi ini mengajari mereka tentang cara memanajemen keluarga melalui pengaturan ekonomi. Metode yang diterapkan adalah tabungan wajib. 

Seiring berjalannya waktu para orangtua tunawisma itu juga menginginkan pendampingan untuk anak-anak mereka. Maka dibentuklah divisi pendidikan anak. Menurut Frater Gorius Gores CMM divisi tersebut lebih fokus pada pendampingan belajar. 

“Program pendampingan belajar diperuntukkan untuk anak balita seperti yang saya lakukan, kemudian SD kecil, SD besar, dan remaja. Program ini diadakan setiap Senin dan Kamis pukul 19.00 seusai mereka bekerja,” ujar frater yang sedang menempuh strata satu di fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sanatha Dharma. 

Pendampingan belajar yang dimaksud beda dengan kursus atau les pada umumnya. “Di sini kami memberikan materi belajar seperti pengetahuan umum yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Kadang ada anak-anak jalanan itu yang sekolah kemudian mengalami kesulitan pelajaran, juga kami bantu,” ujar Dian Aprelia Rukmi,  volunteer sekaligus peneliti dari PGSD Sanatha Dharma. 

Materi belajar anak-anak dibentuk dan dirumuskan saat Rapat Kerja Volunteer dua kali selama setahun. Artinya per semester, para volunteer diharuskan membuat satuan materi pelatihan dan pembelajaran. Sebut saja di kelas pendampingan belajar anak balita yang diampu Frater Gorius Gores CMM. Frater dibantu dua volunteer lainnya membuat satuan materi tentang latihan dan praktik kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan perkembangan motorik anak, seperti menempel, menjahit, dan menggunakan alat peraga. Tidak hanya melakukan pendampingan dalam belajar, divisi pendidikan anak juga melakukan pendampingan ketrampilan membuat kerajian setiap Sabtu sore.

Lokasi tempat tinggal mereka yang berada di pinggir sungai seringkali digambarkan sebagai lokasi yang dekat dengan situasi kumuh, kotor, dan tidak terawat. Hal itu membuat para volunteer PSP mengajak anak-anak dampingan untuk belajar merawat lingkungan sekitar mereka melalui program Pingit Go Green. Salah satu wujud program Pingit Go Green adalah mengajak anak-anak menanam dan merawat pohon.

Semua usaha yang dilakukan oleh para volunteer tidak lain bertujuan untuk mengusahakan kehidupan mandiri bagi anak-anak di kemudian hari. Pendidikan adalah salah satu cara untuk melakukan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Meski ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Theresia Kristi Panca Wijayanti yang akrab disapa Piwi mengakui selama menjadi volunteer di PSP ada kesukaran dalam mendampingi anak-anak jalanan itu, seperti sikap anak-anak dampingan yang nakal dan susah diatur. 

Hal senada juga diakui Frater Gorius Gores CMM. “Mereka bertingkah seperti itu tidak terlepas dari latar belakang kehidupan mereka. Memang susah untuk diajak belajar. Tetapi perlahan kita dampingi. Sekarang berangsur-angsur mereka sudah bisa diajak belajar dan bermain,” imbuh frater.

Selama hampir 47 tahun berkarya, PSP telah menjadi pelita bagi keluarga-keluarga tunawisma di pinggiran Kali Winongo, Pingit Yogyakarta. Di tengah retorika-retorika pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, PSP telah lebih dahulu melakukan langkah konkret bagi kaum tunawisma dan anak-anak mereka melalui program pendidikannya.

Selasa, 15 Mei 2012

Bunga Matahari dan Kue Tart bag.1

Dengan muka kusut, Wening melepaskan ranselnya, menyalakan komputer PCnya. Sambil menunggu komputernya nyala, Wening membaca koran yang sudah ada di meja kerjanya. Diamatinya halaman depan, sedikit senyum menghiasi bibirnya. Foto Headline hari itu adalah hasil jepretannya.

"Cie...yang lagi seneng fotonya jadi headline lagi, " ujar Joko, rekan Wening yang berada di samping desk Wening.

"Selamat ya, Ning. Seminggu ini, Halaman Depan jadi milikmu..," ujar rekan Wening lainnya yang duduk di seberang desk Wening.

Dan Wening memang boleh tersenyum menghilangkan kekusutan pagi. Diambilnya gunting dari kotak pensil. Segera ia memotong foto tersebut dan ditempel di buku notes, kemudian dia menuliskan "Yeah...being Headline again..Nice Job"

"Mbak Weningggggg... selamat ya, foto Mbak jadi headline lagi, " teriak Sakti, seorang cleaning service kantor. Sakti biasa bertugas pagi di ruang redaksi. Dari Sakti inilah, para kru jurnalis Koran K bisa menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari.

"Oya, mas Sakti... terimakasih ya.." jawab Wening sambil membetulkan kacamatnya. Seolah sedang konsentrasi dengan komputer PCnya, Wening membalas ucapan Sakti pelan, tertahan di kerongkongan.

"Mbak Wening pesen kopi atau susu?" tanya Sakti lagi

"Susu aja, Mas...sedikit gula ya... terimakasih," imbuh Wening.

"Mas Sakti, aku kopi susu ya..."

"Mas Sakti, aku kayak si Cantik Wening aja, Susu dengan sedikit gula" ujar Joko.

"Cie...mas Joko maunya ikut-ikutan Wening terus.." sontak gelegar tawa memenuhi ruang redaksi pagi itu.. Dan Wening mau tak mau ikutan tersenyum dengan pipi yang sedikit memerah.

"Ya iya, dong... ikut-ikutan Wening biar bisa nampang di headline...hihi..." teriak Joko..

" Biar bisa ikutan naik jabatan, ya, Jok? " teriak rekan lain

Wer... seluruh ruangan tertawa lagi.

" Naik jabatan apa ya?" ujar Wening kepada Joko.

Sakti yang dari tadi sibuk mencatat pesanan kru redaksi segera menyempil pembicaraan, "Ya elah, Mbak...pura-pura ga tau. yang mbak mau dipindah jadi penanggung jawab redaksi di Yogya."

Wening melepas kacamatanya dan menatap Joko di sampingnya, " Apa iya, Mas? Kok aku belum tau itu kabar."

Windi, reporter desk humaniora yang baru datang langsung ikutan nimbrung.." Kita sih dengernya gitu, Ning. Coba tar sore pas rapat redaksi, lu nanya aja ama Bos. Oke??"

Wening masih terbengong mendengarnya. Banyak ketidaktauan menghampirinya belakangan. Banyak kejutan hidup tak disangkanya beberapa hari ini. Yang terakhir kabar promosi dirinya.

"Woi...malah bengong!! Lu hari ini motretin liputan gue, kan? Cepet sono siap-siap," kata Windi.

"Oh, Ok, Wind.. aku tak cek email ama bm yang masuk dulu ya. Sambil nunggu susu pesanan aku datang," Segera Wening mengecek email yang masuk .

Ning, ni Dhea. Boleh minta tolong ga? Kau bisa ngisi acara di sekolahku, tentang pendidikan jurnalisme untuk anak sekolah dasar. Acara hari Sabtu depan di sekolahku yang baru di daerah Janabadra Yogya. Tapi sori ya, Ning fee dan akomodasi cuma seadanya.. bls di sms.

Ning,lu bisa ke Yogya kan besok Sabtu?? Mendadak Ning, sekolahku ngadain diklat jurnalistik untuk anak SD... kau bisa kan jadi pembicaranya? Bls Dhea

Undangan workshop fotografi human interest di Yogya..bla-bla...

 And, another BM ..
Ning, sorry ya kalo gue ga bisa nemeni lu buat ketemu sama si Ibu itu buat jadi narasumber elu. Yang penting gue udah kontak tu Ibu, kalo lu bakal dateng ke sono. Gue malem ini mau ngurus undangan dll untuk nikahan gue. Sekar.

Ning, sorry ya...sore ini, gue ga bisa nemeni lu ke Kampung Kusta di daerah Tangerang.Mendadak, gue juga ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Lu bisa sendiri kan?? Eh, selamat ya, today is yoyr day...fotomu jadi headline lagi. Soal motormu, masukin bengkel aja daripada repot mulu. Agus.

Ning, sorry ya..besok Sabtu, gue ga bisa bantu acaramu.. kan lu tau tunangan gue dateng. 

Ning, ibu tadi sms Mbak..katanya Ibu ga bisa dateng ke Jakarta, Sabtu besok. Ibu ama Bapak mau ke tempat bulik di Wlingi. Bulik lagi sakit. Ibu pesen kamu kerja yang bener..ojo ngroso duwur... Mbak Rani

Ning, sorry bikin lu keki pagi tadi. Gue emang lagi rempong ngurus branding produk baru. Sorry banget gue ga bisa dengerin lu cerita...sorry juga buat sarapan paginya yang ternyata malah bikin lu mencret. Echa

Wening cuma bisa menghela napas panjang. Entah kenapa belakangan banyak teman-temannya meninggalkan dirinya, sibuk seolah tak ada waktu untuk dirinya. Tidak juga teman, bahkan kedua orangtuanya pun juga bersikap demikian. Wening berharap kegelisahan ini hanya perasaan sesaat. Tapi entahlah, jauh di dalam hatinya, ia merasa kesepian menerpa. Kematangan karir memang sedang dipegangnya, namun Wening merasa ada yang kurang.

Dipandanginya sebuah frame foto berbentuk bunga matahari di atas meja kerjanya. Ada sebuah foto dirinya dengan seorang laki-laki.. "Lima tahun berlalu...apa kabar dia? Masihkah dia berkutat dengan dunia yang sama denganku? Masihkah dia ingat aku?"

"Ning..................ayo....." teriak Windi yang sudah lengkap dengan tas ransel dan kartu pers yang menggantung di dadanya.