Untuk: Agung Priyo di Suara Merdeka biro Yogya
“Ayo doa dulu sebelum memulai kegiatan. Duduk
bersila dan tangan di atas dada. Ucapkan bis-mi-llah…” ujar frater Gorius Gores
CMM. Belum selesai berucap, terdengar tangisan dari bocah balita yang duduk di
depan frater Gorius.”Wuaaaa….hiks-hiks….ibu…aa….wua..”. Si Frater pun
menghentikan ritual doa pembuka dan menyuruh salah seorang volunteer
menenangkan balita yang menangis itu.
Begitulah
suasana keramaian di ruang kelas pendampingan belajar untuk anak usia balita di
Perkampungan Sosial Pingit (PSP) Yogyakarta. Keriuhan sudah dimulai sebelum
ritual doa pembuka. Anak-anak balita tersebut telah asyik dengan mainan-mainan
yang disediakan di ruang kelas, seperti kipas warna-warni, puzzle sederhana,dan balok-balok kertas. Kenakalan mereka membuat
para volunteer harus bersikap sabar. Anak-anak itu adalah anak jalanan yang
berasal dari keluarga tunawisma di Yogyakarta.
Pendampingan
belajar anak balita adalah salah satu program yang ada di PSP. PSP merupakan
sebuah komunitas karya sosial yang dimiliki oleh Yayasan Sosial Soegijapranata,
Keuskupan Agung Semarang. Komunitas karya sosial ini bergerak di bidang community development kepada para
tunawisma yang tinggal di sekitar Kali (Sungai) Winongo, Pingit, Yogyakarta. PSP
dirintis mulai tahun 1965 oleh Pastor Benhard Kieser, seorang pastor yesuit
Kolese Santo Ignatius, untuk memberikan pelayanan bagi keluarga-keluarga
tunawisma.
“PSP
hadir pasca peristiwa G30S PKI tahun 1965. Tahun-tahun itu terjadi krisis
ekonomi berat dan melahirkan banyak tunawisma di Yogyakarta. Terbesitlah ide
dari Pastor Kiesher untuk mendirikan penampungan bagi mereka,” ujar Frater
Mario, frater asal Fakultas Teologi Sanatha Darma yang sejak Januari 2012
menjadi volunter.
Berkat
bantuan seorang donatur yakni Soebarjo, PSP bisa menempati sebidang tanah di
tepi Sungai Winango sampai sekarang. Di tepi sungai Winango inilah berdiri
empat bangunan sederhana dengan dinding bambu dan triplek yang digunakan untuk
ruang kelas, ruang rapat, dan ruang serbaguna.
Pada
awal mulanya PSP hanya dikhususkan untuk pendampingan orangtua atau yang lebih
dikenal dengan divisi pengembangan masyarakat. Divisi Pengembangan Masyarakat
dilakukan dengan pendampingan warga binaan. Warga binaan adalah keluarga
tunawisma yang berasal dari jalan-jalan di sekitaran Yogyakarta. Divisi ini
mengajari mereka tentang cara memanajemen keluarga melalui pengaturan ekonomi.
Metode yang diterapkan adalah tabungan wajib.
Seiring
berjalannya waktu para orangtua tunawisma itu juga menginginkan pendampingan
untuk anak-anak mereka. Maka dibentuklah divisi pendidikan anak. Menurut Frater
Gorius Gores CMM divisi tersebut lebih fokus pada pendampingan belajar.
“Program
pendampingan belajar diperuntukkan untuk anak balita seperti yang saya lakukan,
kemudian SD kecil, SD besar, dan remaja. Program ini diadakan setiap Senin dan
Kamis pukul 19.00 seusai mereka bekerja,” ujar frater yang sedang menempuh
strata satu di fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sanatha Dharma.
Pendampingan
belajar yang dimaksud beda dengan kursus atau les pada umumnya. “Di sini kami
memberikan materi belajar seperti pengetahuan umum yang tidak mereka dapatkan
di sekolah. Kadang ada anak-anak jalanan itu yang sekolah kemudian mengalami
kesulitan pelajaran, juga kami bantu,” ujar Dian Aprelia Rukmi, volunteer sekaligus peneliti dari PGSD
Sanatha Dharma.
Materi
belajar anak-anak dibentuk dan dirumuskan saat Rapat Kerja Volunteer dua kali
selama setahun. Artinya per semester, para volunteer diharuskan membuat satuan
materi pelatihan dan pembelajaran. Sebut saja di kelas pendampingan belajar
anak balita yang diampu Frater Gorius Gores CMM. Frater dibantu dua volunteer
lainnya membuat satuan materi tentang latihan dan praktik kehidupan sehari-hari
yang berhubungan dengan perkembangan motorik anak, seperti menempel, menjahit,
dan menggunakan alat peraga. Tidak hanya melakukan pendampingan dalam belajar,
divisi pendidikan anak juga melakukan pendampingan ketrampilan membuat kerajian
setiap Sabtu sore.
Lokasi
tempat tinggal mereka yang berada di pinggir sungai seringkali digambarkan
sebagai lokasi yang dekat dengan situasi kumuh, kotor, dan tidak terawat. Hal
itu membuat para volunteer PSP mengajak anak-anak dampingan untuk belajar
merawat lingkungan sekitar mereka melalui program Pingit Go Green. Salah satu
wujud program Pingit Go Green adalah mengajak anak-anak menanam dan merawat
pohon.
Semua
usaha yang dilakukan oleh para volunteer tidak lain bertujuan untuk mengusahakan
kehidupan mandiri bagi anak-anak di kemudian hari. Pendidikan adalah salah satu
cara untuk melakukan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Meski ini
bukanlah pekerjaan yang mudah. Theresia Kristi Panca Wijayanti yang akrab
disapa Piwi mengakui selama menjadi volunteer di PSP ada kesukaran dalam
mendampingi anak-anak jalanan itu, seperti sikap anak-anak dampingan yang nakal
dan susah diatur.
Hal
senada juga diakui Frater Gorius Gores CMM. “Mereka bertingkah seperti itu
tidak terlepas dari latar belakang kehidupan mereka. Memang susah untuk diajak
belajar. Tetapi perlahan kita dampingi. Sekarang berangsur-angsur mereka sudah
bisa diajak belajar dan bermain,” imbuh frater.
Selama
hampir 47 tahun berkarya, PSP telah menjadi pelita bagi keluarga-keluarga
tunawisma di pinggiran Kali Winongo, Pingit Yogyakarta. Di tengah
retorika-retorika pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, PSP telah lebih
dahulu melakukan langkah konkret bagi kaum tunawisma dan anak-anak mereka
melalui program pendidikannya.